PreSchool Bintaro, TK Bintaro, Sekolah Islam

Belajar Mandiri Saat Libur Lebaran - Bestariku

Belajar Mandiri Saat Libur Lebaran

Belajar Mandiri Saat Libur Lebaran

Hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata. Segala persiapan mulai dilakukan, termasuk bersiap untuk ditinggal mudik oleh asisten rumah tangga. Sebetulnya hal ini rutin terjadi setiap tahun. Duh, terbayang repotnya mengasuh bayi dan balita sembari harus membersihkan rumah, mengurus cucian dan menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka.

Situasi ini justru bisa dimanfaatkan untuk memberi kesempatan kepada anak belajar mandiri. Alih-alih “merepotkan”, anak balita bisa diajak bekerja sama – kalaupun belum dapat membantu, paling tidak tak memberikan pekerjaan ekstra pada kita. Anak dapat diminta membereskan sendiri tempat tidurnya. Membereskan mainan setelah digunakan. Mengambil dan menyiapkan peralatan makannya. Makan sendiri. Mengelap peralatan makan sehabis dicuci. Membantu menyiapkan bahan makanan untuk kita masak. Menyiram tanaman. Mandi sendiri. Menyiapkan pakaian dan berpakaian sendiri.

Ah, apa anak sudah bisa ? Bisa. Tentunya, sesuaikan pekerjaan yang diberikan dengan usia anak. Dan jangan mengharapkan hasil yang sempurna. Tanamkan dalam benak kita bahwa tujuannya adalah mengajarkan anak agar peduli dengan perubahan situasi yang terjadi dan semua anggota keluarga, tanpa terkecuali, mempunyai andil dalam pekerjaan rumah tangga. Libatkan anak untuk membuat jadwal pekerjaan harian. Tanyakan pekerjaan apa yang ingin ia lakukan, dan arahkan agar ia memilih pekerjaan yang sesuai usianya. Kalaupun si kecil yang berusia 2 tahun bersikeras mencuci piring, misalnya, batasi pada peralatan makan yang tak berbahaya, dan dampingi saat ia melakukannya. Pendampingan dapat dikurangi seiring dengan bertambahnya kemampuan dan usia anak kelak. Siasati waktu cuci piring mendekati waktu menyiram tanaman dan mandi, sehingga tak menambah tumpukan baju (basah) yang perlu dicuci.

Libur Hari Raya Idul Fitri juga merupakan kesempatan bagi orang tua untuk melatih anak agar menguasai kemampuan mengurus diri. Ketika membuat jadwal pekerjaan, idealnya pekerjaan yang dipilih anak terutama adalah pekerjaan yang dapat melatih kemampuan ini secara bertahap. Dimulai dari makan sendiri, mandi sendiri, dan berpakaian sendiri. Selanjutnya pekerjaan yang masih berhubungan dengan diri anak, seperti menyiapkan peralatan makannya, menyiapkan pakaian, serta membereskan mainan dan tempat tidur. Baru kemudian pekerjaan rumah tangga lainnya seperti mengelap piring, membantu menyiapkan bahan makanan, dan menyiram tanaman.

Setiap anak selesai melakukan pekerjaan, dapat diberikan stiker reward untuk ditempel pada jadwal pekerjaannya. Namun bisa jadi, perasaan senang yang dialami anak karena “bisa membantu Mama” atau “bisa bekerja seperti Kakak” menjadi reward yang lebih dari cukup. Anak membutuhkan perasaan berhasil untuk membentuk kepercayaan dirinya. Apabila selama ini ia selalu dibantu mbak atau suster, saat mereka mudik justru memberi peluang kepada anak untuk menunjukkan kemampuan mengurus diri.

Kemampuan mengurus diri merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai anak. Tugas perkembangan ini sejalan dengan bertambahnya kemampuan anak sesuai dengan usianya. Anak usia 2 tahun, misalnya, akan menunjukkan keinginan untuk memilih sendiri pakaian yang akan dikenakannya. Pada usia ini pula anak memiliki tugas perkembangan untuk dapat melepaskan pakaiannya sendiri. Pada usia 3 tahun anak diharapkan telah dapat berpakaian dan makan sendiri. Anak usia ini telah dapat dibiasakan untuk menyiapkan makanan sendiri seperti menuangkan susu dan sereal ke mangkuknya. Anak usia 3 tahun diharapkan telah dapat membereskan mainannya sendiri, dan usia 4 tahun telah dapat membereskan tempat tidurnya sendiri.

Apa yang terjadi bila anak tidak diberi kesempatan untuk melatih diri ? Anak akan “berjuang” untuk mendapatkannya dari orang tua. Yang akan terlihat oleh orang tua adalah anak menjadi “melawan”, “tidak mau nurut”, dan sederet label jelek lainnya. Padahal, yang dibutuhkan anak hanyalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia mampu, dan kesempatan melatih kemampuannya itu sampai ia menguasainya dengan baik (mastering skill). Ada baiknya anak dibiasakan dengan pekerjaan rumah tangga sejak usia dini, dan memiliki tugas rumah tangga tertentu. Tugas rumah tangga melatih anak untuk melakukan tanggung jawab, dan memberinya perasaan percaya diri karena mampu melakukannya. Kelak ia akan menjadi seorang dewasa yang harus melakukan pekerjaan rumah tangga tersebut. Terkadang kemampuan ini diperlukan lebih cepat, misalnya saat si remaja berusia 17 tahun harus berkuliah di kota lain atau bahkan di belahan dunia lain. Orang tua sering tidak sadar karena kemampuan ini nampaknya tidak penting. Apa yang akan terjadi saat si remaja – yang telah bertahun-tahun terbiasa dilayani – tiba-tiba harus melakukan ini dan itu sendiri ? Bisa jadi ia merasa tidak siap untuk meninggalkan rumah.

Tentu kita tidak ingin hal seperti itu terjadi. Jadi, selama masih ada waktu, mari berikan kesempatan kepada si kecil untuk unjuk kemampuan. Si kecil bisa berlatih, rumah pun menjadi bersih J

(Penulis : Dini Widiastuti, ST. MM, Pengelola Bestariku, Ibu dari Danisha (10 th) & Dhafina (7 th)

  • Blog Bestariku