PreSchool Bintaro, TK Bintaro, Sekolah Islam

Kemandirian - Bestariku

Kemandirian

Kemandirian

Apa yang ada di benak Orang Tua ketika mendengar kata kemandirian? Pasti yang terbayang adalah anak bisa kemana-mana sendiri, bisa melakukan kegiatan sendiri, bisa diTINGGAL-TINGGAL. Hanya itu? Sepertinya sederhana sekali. Sederhana? Yakin? Itu kan hasil akhir. Prosesnya? Simak uraian tante Rina di bawah ini.

Sering orangtua bertanya apa yang dibutuhkan supaya anak bisa mandiri? Sejak kapan anak bisa diajarkan untuk mandiri? Sabar dulu, Bunda dan Ayah. Yang perlu dipersiapkan adalah anak merasa Aman dan Nyaman. Dan, hal ini harus dilakukan sejak bayi. Sejak bayi anak akan merasa aman dan nyaman dengan kehadiran Orangtua atau orang dewasa. Hal itu sepertinya adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Anak-anak perlu merasakan kehadiran orang dewasa yang dikenalnya. Orang dewasa di sini bukan untuk membantu atau mengarahkan. Anak juga perlu untuk mengenali dirinya sendiri supaya nantinya ananda mampu mandiri.

Yang sering terjadi adalah, orangtua “menuntut” anak untuk mandiri tanpa menciptakan kondisi yang kondusif bagi anak. Anak diminta untuk dapat melakukan sesuatunya sendiri atau ditinggal tapi secara instan. Instan? Maksudnya hanya diberi tahu atau diberikan kesempatan sesekali dan tidak konsisten. Ketemu kata yang familiar? Konsisten? Iya. Konsisten adalah harga yang wajib dibayar oleh orangtua dalam pendidikan anak. Termasuk dalam menumbuhkan kemandirian.

Selain konsisten, orangtua juga harus mulai menaruh kepercayaan kepada anak bahwa anak mampu untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri. Tapi kan nanti jadi lama Tante? Saya sering mendapat pengakuan seperti ini . Kalau kita tidak memulai menaruh kepercayaan kepada anak, sampai kapan kita mau membantu anak? Sampai besar? Sebesar apa? Ketika anak diberikan kepercayaan, perlahan rasa percaya dirinya akan tumbuh. Kalau sudah percaya diri, anak akan lebih berani eksplorasi. Anak akan mampu mengukur kemampuan dirinya. Ketika ananda sudah sadar akan dirinya sendiri maka anak diharapkan akan nyaman dan berani untuk mencoba hal-hal baru. Salah satu poin mandiri yang diinginkan sudah tercapai.

Apakah mandiri hanya berhenti ketika ananda sudah dapat melakukan kegiatan sendiri atau sudah dapat ditinggal? Ternyata ada tujuan akhir yang lebih besar ketika terucap kata mandiri. Tujuan itu adalah diharapkan anak dapat mengarahkan dirinya sendiri ketika sudah dalam masa sekolah. Misalnya ananda dapat mengarahkan dirinya untuk belajar sendiri tanpa harus diminta, mempersiapkan diri sendiri ketika akan menghadapi ujian tanpa ada campur tangan orang dewasa. Berani untuk mengambil resiko dan berani menerima konsekuensi dari tindakannya. Itu sebetulnya tujuan hakiki dari kemandirian.

Kok berat sekali ya? Kayaknya susah deh Tante buat dijalanin. Buat aku sih yang penting sekarang bisa ditinggal aja kalau di sekolah. Umm, berat memang. Tapi, bukan tidak mungkin kan? Lebih baik kita mempersiapkan anak-anak sejak dini dibandingkan kita mengeluarkan tenaga yang jauh lebih besar ketika anak sudah besar. Seperti hukum tabur tuai, apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai atau panen. J

(Penulis : Rina Desyana Y, SS., Koordinator Guru Bestariku)

  • Blog Bestariku