PreSchool Bintaro, TK Bintaro, Sekolah Islam

Satu, Dua, Tiga! - Bestariku

Satu, Dua, Tiga!

Satu, Dua, Tiga!

Selalu saya tanamkan di benak saya bahwa anak-anak yang tampak “rapuh” sebenarnya adalah anak yang istimewa dan mampu melakukan hal-hal yang disangsikan oleh orang dewasa. Apalagi saat beraktivitas bersama anak usia 1 tahun. Mereka terlihat sangat mungil, terkadang, jalannya pun masih belum stabil. Mereka belum mampu memperhitungkan sesuatu hal saat bergerak, rawan terantuk benda di sekitarnya dan terjatuh, namun mereka mampu melakukan gerakan-gerakan sederhana kemudian menghafalnya. Apalagi gerakan yang disertai dengan lagu, karena mereka peka terhadap suara.

Mereka suka memanjat untuk melatih motorik kasarnya, meski tetap didampingi. Apalagi ketika turun dari seluncuran. Kebanyakan dari mereka akan tersenyum begitu sampai di bawah. Yang terkadang masih ditakuti adalah ketika melewati terowongan yang agak panjang. Mungkin karena merasa kalau terowongan itu tempat yang agak tertutup dan berbeda dari ruangan di luar. Dengan diberi keyakinan dan dorongan, tak sedikit yang akhirnya berani mencoba.

Instruksi yang diberikan untuk anak usia 1 tahun juga masih sederhana, yaitu satu tahap. Misalnya, menempel saja, atau memindahkan benda saja. Tapi, harus tetap diawasi karena anak usia 1 tahun, masih suka memasukkan benda-benda ke dalam mulut dan hidung. Mereka mencari sensasi dan melakukan eksplorasi dari lingkungan, termasuk dari benda yang dipegang.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak usia 1 tahun memang masih tergantung kepada orang dewasa, tapi bukan berarti mereka tidak mampu melakukannya. Anak-anak usia 1 tahun sudah dapat dilatih makan sendiri menggunakan sendok, minum sendiri, menuang sendiri, dan meletakkan atau mengambil tas sendiri dari loker.

Anak usia 1 tahun memang belum bermain bersama dengan teman-teman. Komunikasipun masih dengan tangisan atau teriakan ataupun dengan gerakan anggota badan. Kata-kata yang dikeluarkannya masih sederhana, seperti “Ma” atau “Pa” atau satu kata.

Di usia 2 tahun, anak-anak mulai mandiri. Mereka mampu mengurus kebutuhannya sendiri, seperti makan sendiri, memakai dan melepas sepatunya sendiri, ataupun cuci ta-ngan sendiri.

Anak usia 2 tahun juga sudah lebih stabil saat melakukan aktivitas motorik kasar, seperti melompat, memanjat, berlari, meskipun masih belajar untuk mengkoordinasikan gerakan dan memperhitungkan suatu aktivitas yang mungkin membahayakan dirinya. Anak usia 2 tahun sudah mulai sadar akan keberadaan teman-teman sepantaran, meskipun masih cenderung bermain sendiri. Mereka mampu berkomunikasi dengan kalimat menggunakan 2-3 kata, mulai tertarik dengan angka, warna, ataupun bentuk. Biasanya, kendala pada anak usia 2 tahun adalah penanganan emosinya yang cenderung mudah marah/ngamuk.

Di usia 3 tahun, anak-anak akan sudah mahir melakukan kegiatan motorik kasar. Mereka mulai mengenal bentuk angka 1-5, bahkan membilang 1-10 dan mulai mengenali huruf. Begitu pula kemampuan motorik halusnya. Mereka mampu menggunting sesuai pola, mampu melipat, ataupun menghubungkan garis putus-putus. Anak usia 3 tahun mampu berkomunikasi dalam bentuk kalimat, mulai meceritakan pengalaman, meskipun kadang masih bercampur dengan imajinasinya. Mereka mulai bermain bersama teman-teman dan berkompetisi. Kemandiriannya juga berkembang pesat, mereka mampu melakukan aktivitas bantu diri dengan baik.

Sebagai guru, keterlambatan perkembangan anak dapat terlihat melalui si-kap atau perilakunya dalam meng-ikuti aktivitas bersama teman-temannya. Kegiatan yang dirancang berdasarkan usia anak semestinya dapat dilakukan oleh sebagian besar anak yang berada pada rentang usia tersebut. Dibutuhkan kerjasama antara guru dan orangtua agar anak dapat memenuhi tugas perkembangannya dengan optimal. J

Penulis : Diah Perwitasari, S.S (Guru Kelas Bulan)

  • Blog Bestariku