PreSchool Bintaro, TK Bintaro, Sekolah Islam

Seputar Tantrum - Bestariku

Seputar Tantrum

Seputar Tantrum

Kapan sih sebenarnya anak mulai tantrum?
Biasanya tantrum terjadi pada masa peralihan dari bayi ke usia anak-anak. Ketika bayi dengan menangis biasanya keinginannya terpenuhi. Tapi ketika sudah beranjak besar, anak makin banyak keinginan tapi mungkin belum mampu mengutarakannya dengan baik. Atau, yang biasanya dengan menangis selalu datang bantuan, tapi ketika
sudah agak besar orang dewasa di sekelilingnya sudah mulai mengurangi bantuan yang diberikan. Hal-hal ini bisa
memicu anak untuk melampiaskan emosinya dengan cara Tantrum.

Wajar tidak sih Tantrum itu?
Tantrum adalah bagian dari proses perkembangan emosi anak. Bersyukurlah orang Tua yang anaknya tidak harus melewati masa tantrum. Berkurang satu beban pikiran Orang Tua. Tapi, kalau anak mengalami Tantrum, bukan berarti itu akhir dunia kok. Tantrum adalah proses perkembangan emosi, bukan hanya anak yang belajar mengen-
dalikan emosinya. Orang Tuanya juga harus ikut belajar. Tantrum tidak bisa selesai dengan cara marah-marah, memukul atau mengancam anak. Cara termudah adalah peluk anak agar anak merasa Nyaman dan Aman dengan orang dewasa di dekatnya.

Kenali tangisan anak.
Apakah menangis keras atau Tantrum. Kalau menangis keras, cukup ditenangkan biasanya anak akan berhenti menangis dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kalau Tantrum, biarkan anak selesaikan menangisnya. Biarkan anak mengeluarkan emosinya. Orang dewasa di sekitarnya cukup berkata dengan ekspresi wajah dan nada suara
yang netral, “Bisa berhenti menangisnya? Kalau bisa silakan bersihkan air matanya. Kalau belum, silakan selesaikan menangisnya. Kalau sudah selesai silakan cari Bunda, Mama atau Mbak.” Jangan ceramahi apalagi memarahi anak yang sedang Tantrum. Kalau kata anak sekarang sih, gak guna! Tunggu sampai anak agak reda tangisnya kemudian tanya ada apa? Kalau anak belum bisa berkomunikasi secara verbal dengan jelas, orang dewasa bisa menyisipkan pelajaran mengenai emosi. Orang Tua bisa menjelaskan kalau yang dialami anak adalah sedih, kecewa atau takut. Sesuaikan dengan kondisi pada saat itu. Ketika anak sudah tenang dan sudah beraktivitas seperti biasa, orang dewasa bisa mulai berdialog dengan anak menanyakan perasaannya, apa yang dilakukannya, kemudian sisipkan pesan bahwa ketika ada keinginan anak yang tidak bisa dipenuhi atau merasa sedih, marah atau kesal tidak perlu dengan cara menangis hingga tantrum.
Cukup bicara baik-baik dan diskusi. Perlakuan ini harus KONSISTEN. Karena ketika anak meminta sesuatu hingga tantrum kemudian keinginannya dipenuhi supaya orang dewasanya, anak akan belajar bahwa jika ingin sesuatu atau sedih berlebihan maka anak cukup mengeluarkan senjata tantrumnya. Toh, keinginan anak akan terpenuhi.
Jika ada satu pihak yang tidak KONSISTEN, maka anak akan mendapatkan pesan yang keliru dan akan terbawa sampai besar.

Kesimpulannya?
Orang dewasa harus terus belajar mengenali emosi anak dan memperkenalkannya walaupun anak belum mengerti. Orang dewasa harus punya stok sabar yang tidak terhingga karena anak melihat pada orang dewasa. KONSISTEN lagi-lagi harga mati dalam proses pembelajaran anak termasuk dalam kondisi Tantrum. Tunjukkan
ekspresi wajah dan nada suara yang netral dalam menghadapi anak Tantrum.

(Penulis : Rina Desyana Y, SS., Koordinator Guru Bestariku)

  • Blog Bestariku