PreSchool Bintaro, TK Bintaro, Sekolah Islam

Serba-Serbi Anak & Ramadhan - Bestariku

Serba-Serbi Anak & Ramadhan

Serba-Serbi Anak & Ramadhan

Apakah anak balita apakah perlu belajar puasa? Caranya? Simak uraian Tante Rina berikut ini, Bunda & Ayah

“Masa iya balita disuruh puasa, gak makan gak minum?

Bukan puasa dengan tidak makan dan tidak minum seharian, Bunda, Ayah. Ada ritual lain yang sebenarnya dapat dipelajari oleh anak. Mulai dari memperkenalkan pengertian puasa di bulan Ramadhan. Dengan bahasa sederhana tentu saja. Puasa itu tidak makan dan minum sejak Subuh sampai Magrib atau sejak matahari terbit sampai matahari terbenam. Beritahu juga pada anak bahwa kita sedang berpuasa, jadi tidak makan dan tidak minum.

“Kalau mau ajak anak puasa, bisa?”

Boleh saja. Tapi, tidak seharian seperti kita orang dewasa. Misalnya, ketika anak sarapan, kita sampaikan, “Ini kakak/adik sedang sahur.” Ketika anak minum setelah bermain atau berkegiatan Bunda danAyah dapat menyampaikan, “Kakak/adik sudah buka puasa ya.” Ketika anak sudah terpapar dengan rutinitas sahur dan buka à la anak-anak, diharapkan mereka akan siap ketika diajak untuk tidak makan dan minum dalam rentang waktu yang lebih lama. Misalnya setelah ‘sahur’ sampaikan bahwa anak akan berpuasa (dengan membaca niat berpuasa) sampai jarum panjang di angka sekian.

“Kalau mereka tanya arti sahur dan buka puasa?”

Jawab sesuai dengan kaidah KISSS = Keep It Short Scientific and Simple. Seperti lagunya Tasya : Apakah arti puasa /Puasa tidak makan / Puasa tidak minum / Sejak subuh sampai magrib // Apakah arti puasa / Puasa menahan lapar / Puasa menahan haus / Dan menjaga perilaku // Allah sangat suka / Allah sangat senang / Bagi anak puasa, diberi pahala / Ditempatkan Allah dalam syurga

“Selain puasa, kan ada tarawih, zakat, sedekah. Apakah anak sudah harus mengikuti itu semua?”

Harus, tidak. Diperkenalkan, iya. Karena itu akan menjadi kewajiban mereka ketika sudah dewasa. Sesungguhnya tarawih, zakat dan sedekah mengandung nilai-nilai universal yang dapat dipelajari anak.

“Misalnya?”

Tarawih, mengajarkan anak untuk tertib mengikuti aturan sholat. Anak juga belajar untuk berbaris tertib dan mengikuti imam. Zakat dan sedekah, mengajarkan anak untuk berempati kepada sesama dan ada hak orang lain di dalam rezeki yang kita miliki. Selain itu, ketika berbagi dengan orang lain pasti ada rasa bahagia di dalam hati karena sudah bisa membuat orang lain bahagia.

Selain puasa, zakat, sedekah dan sholat tarawih, selama bulan Ramadhan kita jadi makin rajin mengkaji Al-Qur’an, sholat jadi makin tepat waktu bahkan kalau bisa berjamaah. Nah, kalau ritual tersebut menjadi rutinitas selama satu bulan penuh, anak juga akan belajar mengenai adanya aturan sholat ketika mendengan azan, menghargai waktu, ibadah bersama dan kegiatan membaca.

“Hm, semuanya tentang ritual ya? Ada yang dapat dipelajari selain ritual? Kesannya berat ya buat anak?”

Tidak perlu dipikirkan menurut logika orang dewasa. Anak belajar karena contoh dan terbiasa. Yang tadinya jarang berkumpul dengan keluarga, berubah terutama untuk berbuka puasa. Ketika berkumpul suasana akan akrab. Keriaan saat berkumpul akan dirasakan anak. Anak akan merekam kalau Ramadhan itu penuh dengan kesenangan bersama keluarga. Jika Orang Tua santai dan bahagia menjalankan puasa, sholat tarawih, tadarus Al-Quran, anak juga akan merasakan hal yang sama.

“Apa iya anak balita sudah bisa paham mengenai itu semua?”

Paham mungkin belum, tapi terpapar hingga menjadi kebiasaan. Karena semua anak belajar dari rutinitas atau pengulangan. Jadi, bukan hanya arti puasa tidak makan tidak minum yang dapat kita ajarkan pada anak, tapi rutinitas selama bulan Ramadhan yang dapat kita perkenalkan sehingga diharapkan anak akan menyerap kebiasaan positif yang kita lakukan selama Ramadhan.

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. J

Penulis : Rina Desyana Y, S.S (Koordinator Guru Bestariku)

  • Blog Bestariku