PreSchool Bintaro, TK Bintaro, Sekolah Islam

TK Bintaro Archives - Bestariku

Posts found under: TK Bintaro Archives - Bestariku

Seputar Tantrum

Kapan sih sebenarnya anak mulai tantrum?
Biasanya tantrum terjadi pada masa peralihan dari bayi ke usia anak-anak. Ketika bayi dengan menangis biasanya keinginannya terpenuhi. Tapi ketika sudah beranjak besar, anak makin banyak keinginan tapi mungkin belum mampu mengutarakannya dengan baik. Atau, yang biasanya dengan menangis selalu datang bantuan, tapi ketika
sudah agak besar orang dewasa di sekelilingnya sudah mulai mengurangi bantuan yang diberikan. Hal-hal ini bisa
memicu anak untuk melampiaskan emosinya dengan cara Tantrum.

Wajar tidak sih Tantrum itu?
Tantrum adalah bagian dari proses perkembangan emosi anak. Bersyukurlah orang Tua yang anaknya tidak harus melewati masa tantrum. Berkurang satu beban pikiran Orang Tua. Tapi, kalau anak mengalami Tantrum, bukan berarti itu akhir dunia kok. Tantrum adalah proses perkembangan emosi, bukan hanya anak yang belajar mengen-
dalikan emosinya. Orang Tuanya juga harus ikut belajar. Tantrum tidak bisa selesai dengan cara marah-marah, memukul atau mengancam anak. Cara termudah adalah peluk anak agar anak merasa Nyaman dan Aman dengan orang dewasa di dekatnya.

Kenali tangisan anak.
Apakah menangis keras atau Tantrum. Kalau menangis keras, cukup ditenangkan biasanya anak akan berhenti menangis dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kalau Tantrum, biarkan anak selesaikan menangisnya. Biarkan anak mengeluarkan emosinya. Orang dewasa di sekitarnya cukup berkata dengan ekspresi wajah dan nada suara
yang netral, “Bisa berhenti menangisnya? Kalau bisa silakan bersihkan air matanya. Kalau belum, silakan selesaikan menangisnya. Kalau sudah selesai silakan cari Bunda, Mama atau Mbak.” Jangan ceramahi apalagi memarahi anak yang sedang Tantrum. Kalau kata anak sekarang sih, gak guna! Tunggu sampai anak agak reda tangisnya kemudian tanya ada apa? Kalau anak belum bisa berkomunikasi secara verbal dengan jelas, orang dewasa bisa menyisipkan pelajaran mengenai emosi. Orang Tua bisa menjelaskan kalau yang dialami anak adalah sedih, kecewa atau takut. Sesuaikan dengan kondisi pada saat itu. Ketika anak sudah tenang dan sudah beraktivitas seperti biasa, orang dewasa bisa mulai berdialog dengan anak menanyakan perasaannya, apa yang dilakukannya, kemudian sisipkan pesan bahwa ketika ada keinginan anak yang tidak bisa dipenuhi atau merasa sedih, marah atau kesal tidak perlu dengan cara menangis hingga tantrum.
Cukup bicara baik-baik dan diskusi. Perlakuan ini harus KONSISTEN. Karena ketika anak meminta sesuatu hingga tantrum kemudian keinginannya dipenuhi supaya orang dewasanya, anak akan belajar bahwa jika ingin sesuatu atau sedih berlebihan maka anak cukup mengeluarkan senjata tantrumnya. Toh, keinginan anak akan terpenuhi.
Jika ada satu pihak yang tidak KONSISTEN, maka anak akan mendapatkan pesan yang keliru dan akan terbawa sampai besar.

Kesimpulannya?
Orang dewasa harus terus belajar mengenali emosi anak dan memperkenalkannya walaupun anak belum mengerti. Orang dewasa harus punya stok sabar yang tidak terhingga karena anak melihat pada orang dewasa. KONSISTEN lagi-lagi harga mati dalam proses pembelajaran anak termasuk dalam kondisi Tantrum. Tunjukkan
ekspresi wajah dan nada suara yang netral dalam menghadapi anak Tantrum.

(Penulis : Rina Desyana Y, SS., Koordinator Guru Bestariku)

Read more...

Kemandirian

Apa yang ada di benak Orang Tua ketika mendengar kata kemandirian? Pasti yang terbayang adalah anak bisa kemana-mana sendiri, bisa melakukan kegiatan sendiri, bisa diTINGGAL-TINGGAL. Hanya itu? Sepertinya sederhana sekali. Sederhana? Yakin? Itu kan hasil akhir. Prosesnya? Simak uraian tante Rina di bawah ini.

Sering orangtua bertanya apa yang dibutuhkan supaya anak bisa mandiri? Sejak kapan anak bisa diajarkan untuk mandiri? Sabar dulu, Bunda dan Ayah. Yang perlu dipersiapkan adalah anak merasa Aman dan Nyaman. Dan, hal ini harus dilakukan sejak bayi. Sejak bayi anak akan merasa aman dan nyaman dengan kehadiran Orangtua atau orang dewasa. Hal itu sepertinya adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Anak-anak perlu merasakan kehadiran orang dewasa yang dikenalnya. Orang dewasa di sini bukan untuk membantu atau mengarahkan. Anak juga perlu untuk mengenali dirinya sendiri supaya nantinya ananda mampu mandiri.

Yang sering terjadi adalah, orangtua “menuntut” anak untuk mandiri tanpa menciptakan kondisi yang kondusif bagi anak. Anak diminta untuk dapat melakukan sesuatunya sendiri atau ditinggal tapi secara instan. Instan? Maksudnya hanya diberi tahu atau diberikan kesempatan sesekali dan tidak konsisten. Ketemu kata yang familiar? Konsisten? Iya. Konsisten adalah harga yang wajib dibayar oleh orangtua dalam pendidikan anak. Termasuk dalam menumbuhkan kemandirian.

Selain konsisten, orangtua juga harus mulai menaruh kepercayaan kepada anak bahwa anak mampu untuk melakukan hal-hal sederhana sendiri. Tapi kan nanti jadi lama Tante? Saya sering mendapat pengakuan seperti ini . Kalau kita tidak memulai menaruh kepercayaan kepada anak, sampai kapan kita mau membantu anak? Sampai besar? Sebesar apa? Ketika anak diberikan kepercayaan, perlahan rasa percaya dirinya akan tumbuh. Kalau sudah percaya diri, anak akan lebih berani eksplorasi. Anak akan mampu mengukur kemampuan dirinya. Ketika ananda sudah sadar akan dirinya sendiri maka anak diharapkan akan nyaman dan berani untuk mencoba hal-hal baru. Salah satu poin mandiri yang diinginkan sudah tercapai.

Apakah mandiri hanya berhenti ketika ananda sudah dapat melakukan kegiatan sendiri atau sudah dapat ditinggal? Ternyata ada tujuan akhir yang lebih besar ketika terucap kata mandiri. Tujuan itu adalah diharapkan anak dapat mengarahkan dirinya sendiri ketika sudah dalam masa sekolah. Misalnya ananda dapat mengarahkan dirinya untuk belajar sendiri tanpa harus diminta, mempersiapkan diri sendiri ketika akan menghadapi ujian tanpa ada campur tangan orang dewasa. Berani untuk mengambil resiko dan berani menerima konsekuensi dari tindakannya. Itu sebetulnya tujuan hakiki dari kemandirian.

Kok berat sekali ya? Kayaknya susah deh Tante buat dijalanin. Buat aku sih yang penting sekarang bisa ditinggal aja kalau di sekolah. Umm, berat memang. Tapi, bukan tidak mungkin kan? Lebih baik kita mempersiapkan anak-anak sejak dini dibandingkan kita mengeluarkan tenaga yang jauh lebih besar ketika anak sudah besar. Seperti hukum tabur tuai, apa yang kita tabur itulah yang akan kita tuai atau panen. J

(Penulis : Rina Desyana Y, SS., Koordinator Guru Bestariku)

Read more...

Belajar Mandiri Saat Libur Lebaran

Hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata. Segala persiapan mulai dilakukan, termasuk bersiap untuk ditinggal mudik oleh asisten rumah tangga. Sebetulnya hal ini rutin terjadi setiap tahun. Duh, terbayang repotnya mengasuh bayi dan balita sembari harus membersihkan rumah, mengurus cucian dan menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka.

Situasi ini justru bisa dimanfaatkan untuk memberi kesempatan kepada anak belajar mandiri. Alih-alih “merepotkan”, anak balita bisa diajak bekerja sama – kalaupun belum dapat membantu, paling tidak tak memberikan pekerjaan ekstra pada kita. Anak dapat diminta membereskan sendiri tempat tidurnya. Membereskan mainan setelah digunakan. Mengambil dan menyiapkan peralatan makannya. Makan sendiri. Mengelap peralatan makan sehabis dicuci. Membantu menyiapkan bahan makanan untuk kita masak. Menyiram tanaman. Mandi sendiri. Menyiapkan pakaian dan berpakaian sendiri.

Ah, apa anak sudah bisa ? Bisa. Tentunya, sesuaikan pekerjaan yang diberikan dengan usia anak. Dan jangan mengharapkan hasil yang sempurna. Tanamkan dalam benak kita bahwa tujuannya adalah mengajarkan anak agar peduli dengan perubahan situasi yang terjadi dan semua anggota keluarga, tanpa terkecuali, mempunyai andil dalam pekerjaan rumah tangga. Libatkan anak untuk membuat jadwal pekerjaan harian. Tanyakan pekerjaan apa yang ingin ia lakukan, dan arahkan agar ia memilih pekerjaan yang sesuai usianya. Kalaupun si kecil yang berusia 2 tahun bersikeras mencuci piring, misalnya, batasi pada peralatan makan yang tak berbahaya, dan dampingi saat ia melakukannya. Pendampingan dapat dikurangi seiring dengan bertambahnya kemampuan dan usia anak kelak. Siasati waktu cuci piring mendekati waktu menyiram tanaman dan mandi, sehingga tak menambah tumpukan baju (basah) yang perlu dicuci.

Libur Hari Raya Idul Fitri juga merupakan kesempatan bagi orang tua untuk melatih anak agar menguasai kemampuan mengurus diri. Ketika membuat jadwal pekerjaan, idealnya pekerjaan yang dipilih anak terutama adalah pekerjaan yang dapat melatih kemampuan ini secara bertahap. Dimulai dari makan sendiri, mandi sendiri, dan berpakaian sendiri. Selanjutnya pekerjaan yang masih berhubungan dengan diri anak, seperti menyiapkan peralatan makannya, menyiapkan pakaian, serta membereskan mainan dan tempat tidur. Baru kemudian pekerjaan rumah tangga lainnya seperti mengelap piring, membantu menyiapkan bahan makanan, dan menyiram tanaman.

Setiap anak selesai melakukan pekerjaan, dapat diberikan stiker reward untuk ditempel pada jadwal pekerjaannya. Namun bisa jadi, perasaan senang yang dialami anak karena “bisa membantu Mama” atau “bisa bekerja seperti Kakak” menjadi reward yang lebih dari cukup. Anak membutuhkan perasaan berhasil untuk membentuk kepercayaan dirinya. Apabila selama ini ia selalu dibantu mbak atau suster, saat mereka mudik justru memberi peluang kepada anak untuk menunjukkan kemampuan mengurus diri.

Kemampuan mengurus diri merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai anak. Tugas perkembangan ini sejalan dengan bertambahnya kemampuan anak sesuai dengan usianya. Anak usia 2 tahun, misalnya, akan menunjukkan keinginan untuk memilih sendiri pakaian yang akan dikenakannya. Pada usia ini pula anak memiliki tugas perkembangan untuk dapat melepaskan pakaiannya sendiri. Pada usia 3 tahun anak diharapkan telah dapat berpakaian dan makan sendiri. Anak usia ini telah dapat dibiasakan untuk menyiapkan makanan sendiri seperti menuangkan susu dan sereal ke mangkuknya. Anak usia 3 tahun diharapkan telah dapat membereskan mainannya sendiri, dan usia 4 tahun telah dapat membereskan tempat tidurnya sendiri.

Apa yang terjadi bila anak tidak diberi kesempatan untuk melatih diri ? Anak akan “berjuang” untuk mendapatkannya dari orang tua. Yang akan terlihat oleh orang tua adalah anak menjadi “melawan”, “tidak mau nurut”, dan sederet label jelek lainnya. Padahal, yang dibutuhkan anak hanyalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia mampu, dan kesempatan melatih kemampuannya itu sampai ia menguasainya dengan baik (mastering skill). Ada baiknya anak dibiasakan dengan pekerjaan rumah tangga sejak usia dini, dan memiliki tugas rumah tangga tertentu. Tugas rumah tangga melatih anak untuk melakukan tanggung jawab, dan memberinya perasaan percaya diri karena mampu melakukannya. Kelak ia akan menjadi seorang dewasa yang harus melakukan pekerjaan rumah tangga tersebut. Terkadang kemampuan ini diperlukan lebih cepat, misalnya saat si remaja berusia 17 tahun harus berkuliah di kota lain atau bahkan di belahan dunia lain. Orang tua sering tidak sadar karena kemampuan ini nampaknya tidak penting. Apa yang akan terjadi saat si remaja – yang telah bertahun-tahun terbiasa dilayani – tiba-tiba harus melakukan ini dan itu sendiri ? Bisa jadi ia merasa tidak siap untuk meninggalkan rumah.

Tentu kita tidak ingin hal seperti itu terjadi. Jadi, selama masih ada waktu, mari berikan kesempatan kepada si kecil untuk unjuk kemampuan. Si kecil bisa berlatih, rumah pun menjadi bersih J

(Penulis : Dini Widiastuti, ST. MM, Pengelola Bestariku, Ibu dari Danisha (10 th) & Dhafina (7 th)

Read more...

Satu, Dua, Tiga!

Selalu saya tanamkan di benak saya bahwa anak-anak yang tampak “rapuh” sebenarnya adalah anak yang istimewa dan mampu melakukan hal-hal yang disangsikan oleh orang dewasa. Apalagi saat beraktivitas bersama anak usia 1 tahun. Mereka terlihat sangat mungil, terkadang, jalannya pun masih belum stabil. Mereka belum mampu memperhitungkan sesuatu hal saat bergerak, rawan terantuk benda di sekitarnya dan terjatuh, namun mereka mampu melakukan gerakan-gerakan sederhana kemudian menghafalnya. Apalagi gerakan yang disertai dengan lagu, karena mereka peka terhadap suara.

Mereka suka memanjat untuk melatih motorik kasarnya, meski tetap didampingi. Apalagi ketika turun dari seluncuran. Kebanyakan dari mereka akan tersenyum begitu sampai di bawah. Yang terkadang masih ditakuti adalah ketika melewati terowongan yang agak panjang. Mungkin karena merasa kalau terowongan itu tempat yang agak tertutup dan berbeda dari ruangan di luar. Dengan diberi keyakinan dan dorongan, tak sedikit yang akhirnya berani mencoba.

Instruksi yang diberikan untuk anak usia 1 tahun juga masih sederhana, yaitu satu tahap. Misalnya, menempel saja, atau memindahkan benda saja. Tapi, harus tetap diawasi karena anak usia 1 tahun, masih suka memasukkan benda-benda ke dalam mulut dan hidung. Mereka mencari sensasi dan melakukan eksplorasi dari lingkungan, termasuk dari benda yang dipegang.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak usia 1 tahun memang masih tergantung kepada orang dewasa, tapi bukan berarti mereka tidak mampu melakukannya. Anak-anak usia 1 tahun sudah dapat dilatih makan sendiri menggunakan sendok, minum sendiri, menuang sendiri, dan meletakkan atau mengambil tas sendiri dari loker.

Anak usia 1 tahun memang belum bermain bersama dengan teman-teman. Komunikasipun masih dengan tangisan atau teriakan ataupun dengan gerakan anggota badan. Kata-kata yang dikeluarkannya masih sederhana, seperti “Ma” atau “Pa” atau satu kata.

Di usia 2 tahun, anak-anak mulai mandiri. Mereka mampu mengurus kebutuhannya sendiri, seperti makan sendiri, memakai dan melepas sepatunya sendiri, ataupun cuci ta-ngan sendiri.

Anak usia 2 tahun juga sudah lebih stabil saat melakukan aktivitas motorik kasar, seperti melompat, memanjat, berlari, meskipun masih belajar untuk mengkoordinasikan gerakan dan memperhitungkan suatu aktivitas yang mungkin membahayakan dirinya. Anak usia 2 tahun sudah mulai sadar akan keberadaan teman-teman sepantaran, meskipun masih cenderung bermain sendiri. Mereka mampu berkomunikasi dengan kalimat menggunakan 2-3 kata, mulai tertarik dengan angka, warna, ataupun bentuk. Biasanya, kendala pada anak usia 2 tahun adalah penanganan emosinya yang cenderung mudah marah/ngamuk.

Di usia 3 tahun, anak-anak akan sudah mahir melakukan kegiatan motorik kasar. Mereka mulai mengenal bentuk angka 1-5, bahkan membilang 1-10 dan mulai mengenali huruf. Begitu pula kemampuan motorik halusnya. Mereka mampu menggunting sesuai pola, mampu melipat, ataupun menghubungkan garis putus-putus. Anak usia 3 tahun mampu berkomunikasi dalam bentuk kalimat, mulai meceritakan pengalaman, meskipun kadang masih bercampur dengan imajinasinya. Mereka mulai bermain bersama teman-teman dan berkompetisi. Kemandiriannya juga berkembang pesat, mereka mampu melakukan aktivitas bantu diri dengan baik.

Sebagai guru, keterlambatan perkembangan anak dapat terlihat melalui si-kap atau perilakunya dalam meng-ikuti aktivitas bersama teman-temannya. Kegiatan yang dirancang berdasarkan usia anak semestinya dapat dilakukan oleh sebagian besar anak yang berada pada rentang usia tersebut. Dibutuhkan kerjasama antara guru dan orangtua agar anak dapat memenuhi tugas perkembangannya dengan optimal. J

Penulis : Diah Perwitasari, S.S (Guru Kelas Bulan)

Read more...

Serba-Serbi Anak & Ramadhan

Apakah anak balita apakah perlu belajar puasa? Caranya? Simak uraian Tante Rina berikut ini, Bunda & Ayah

“Masa iya balita disuruh puasa, gak makan gak minum?

Bukan puasa dengan tidak makan dan tidak minum seharian, Bunda, Ayah. Ada ritual lain yang sebenarnya dapat dipelajari oleh anak. Mulai dari memperkenalkan pengertian puasa di bulan Ramadhan. Dengan bahasa sederhana tentu saja. Puasa itu tidak makan dan minum sejak Subuh sampai Magrib atau sejak matahari terbit sampai matahari terbenam. Beritahu juga pada anak bahwa kita sedang berpuasa, jadi tidak makan dan tidak minum.

“Kalau mau ajak anak puasa, bisa?”

Boleh saja. Tapi, tidak seharian seperti kita orang dewasa. Misalnya, ketika anak sarapan, kita sampaikan, “Ini kakak/adik sedang sahur.” Ketika anak minum setelah bermain atau berkegiatan Bunda danAyah dapat menyampaikan, “Kakak/adik sudah buka puasa ya.” Ketika anak sudah terpapar dengan rutinitas sahur dan buka à la anak-anak, diharapkan mereka akan siap ketika diajak untuk tidak makan dan minum dalam rentang waktu yang lebih lama. Misalnya setelah ‘sahur’ sampaikan bahwa anak akan berpuasa (dengan membaca niat berpuasa) sampai jarum panjang di angka sekian.

“Kalau mereka tanya arti sahur dan buka puasa?”

Jawab sesuai dengan kaidah KISSS = Keep It Short Scientific and Simple. Seperti lagunya Tasya : Apakah arti puasa /Puasa tidak makan / Puasa tidak minum / Sejak subuh sampai magrib // Apakah arti puasa / Puasa menahan lapar / Puasa menahan haus / Dan menjaga perilaku // Allah sangat suka / Allah sangat senang / Bagi anak puasa, diberi pahala / Ditempatkan Allah dalam syurga

“Selain puasa, kan ada tarawih, zakat, sedekah. Apakah anak sudah harus mengikuti itu semua?”

Harus, tidak. Diperkenalkan, iya. Karena itu akan menjadi kewajiban mereka ketika sudah dewasa. Sesungguhnya tarawih, zakat dan sedekah mengandung nilai-nilai universal yang dapat dipelajari anak.

“Misalnya?”

Tarawih, mengajarkan anak untuk tertib mengikuti aturan sholat. Anak juga belajar untuk berbaris tertib dan mengikuti imam. Zakat dan sedekah, mengajarkan anak untuk berempati kepada sesama dan ada hak orang lain di dalam rezeki yang kita miliki. Selain itu, ketika berbagi dengan orang lain pasti ada rasa bahagia di dalam hati karena sudah bisa membuat orang lain bahagia.

Selain puasa, zakat, sedekah dan sholat tarawih, selama bulan Ramadhan kita jadi makin rajin mengkaji Al-Qur’an, sholat jadi makin tepat waktu bahkan kalau bisa berjamaah. Nah, kalau ritual tersebut menjadi rutinitas selama satu bulan penuh, anak juga akan belajar mengenai adanya aturan sholat ketika mendengan azan, menghargai waktu, ibadah bersama dan kegiatan membaca.

“Hm, semuanya tentang ritual ya? Ada yang dapat dipelajari selain ritual? Kesannya berat ya buat anak?”

Tidak perlu dipikirkan menurut logika orang dewasa. Anak belajar karena contoh dan terbiasa. Yang tadinya jarang berkumpul dengan keluarga, berubah terutama untuk berbuka puasa. Ketika berkumpul suasana akan akrab. Keriaan saat berkumpul akan dirasakan anak. Anak akan merekam kalau Ramadhan itu penuh dengan kesenangan bersama keluarga. Jika Orang Tua santai dan bahagia menjalankan puasa, sholat tarawih, tadarus Al-Quran, anak juga akan merasakan hal yang sama.

“Apa iya anak balita sudah bisa paham mengenai itu semua?”

Paham mungkin belum, tapi terpapar hingga menjadi kebiasaan. Karena semua anak belajar dari rutinitas atau pengulangan. Jadi, bukan hanya arti puasa tidak makan tidak minum yang dapat kita ajarkan pada anak, tapi rutinitas selama bulan Ramadhan yang dapat kita perkenalkan sehingga diharapkan anak akan menyerap kebiasaan positif yang kita lakukan selama Ramadhan.

Selamat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. J

Penulis : Rina Desyana Y, S.S (Koordinator Guru Bestariku)

Read more...

Ramadhan agar Konsisten dalam Pengasuhan

Ramadhan adalah satu dari dua belas bulan yang dijalani dalam kehidupan manusia. Di bulan ini Allah SWT meminta umatnya yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa untukNYA (QS. Al Baqarah ayat 183). Tata tertib ibadah diatur, tidak makan dan tidak minum sejak subuh sampai maghrib. Begitu terus selama satu bulan. Allah SWT juga memberikan keutamaan ibadah pada bulan ini. Berlomba-lombalah umat yang beriman untuk memperbanyak tabu-ngan ibadahnya, untuk bekal pulang kelak.

Jika di sebelas bulan lainnya, kita masih memiliki celah untuk berkelit, tidak di bulan Ramadhan, jika kita ingin menjadi umat yang beriman. Semua perilaku diatur secara konsisten selama satu bulan. Dengan harapan terjadi konsistensi dalam ritual ibadah dan perilaku kita yang baik. Menjadi kebiasaan. Jika puasa yang dilakukan selama satu bulan dan segala ibadah lain dilakukan dengan tulus mengharap ridho Allah SWT, pasti ada manfaatnya dalam perilaku kita sehari-hari. Bagaimana dengan perilaku kita sebagai orangtua?

Hikmah dari Ramadhan salah satunya adalah belajar untuk berperilaku baik secara konsisten. Salah satu kunci pe-ngasuhan adalah bersikap konsisten. Mudah diucapkan, tetapi pelaksanaannya? Ya, Anda tidak sendirian. Berurusan dengan diri sendiri saja, kadang kita mudah tergoda. Apalagi ketika berinteraksi dengan ananda. Duh, si kecil ini pintar berkelit dan ada saja akalnya untuk mendapatkan kesenangannya. Jika sejalan dengan aturan atau harapan kita, tentu tidak masalah. Yang sering terjadi adalah sebaliknya. Akibatnya sudah dapat ditebak. Si kecil berbuat semaunya sendiri dan orangtua berada di pihak yang tidak berdaya. Momen Ramadhan bisa menjadi awal untuk menjadi orangtua yang lebih baik, yang konsisten.

NIAT

Ketika akan menjalankan ibadah puasa, kita mengucapkan niat. Karena Allah semata. Niat itu menguatkan kita menahan lapar dan dahaga selama sekitar 14 jam. Dengan tetap beraktivitas, kita mampu mengatasi rasa lemas dan kebutuhan biologis hingga saatnya berbuka. Niat hanya melakukan perintah Allah dan mengharapkan balasan sebagai bekal amalan. Pernahkah kita berniat ketika membentuk perilaku ananda? Agar ananda menjadi anak yang baik, yang dapat mengikuti norma masyarakat, agar ananda memiliki kebiasaan yang baik. Niat bekerja di alam bawah sadar manusia dan dapat menjadi penggerak utama perilaku.

ATURAN ITU PERLU

Dalam kehidupan, kita memerlukan aturan sebagai pemandu kita dalam menjalankan aktivitas. Kita bisa mengarahkan perilaku dan mengharapkan respon yang sesuai bila kita tepat dalam berperilaku. Demikian juga pada anak-anak. Mereka perlu arahan agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tidak usah khawatir anak akan tidak bebas bereksplorasi, justru dengan aturan, anak dapat melakukan eksplorasi dengan aman dan nyaman. Bantu anak untuk dapat berperilaku sesuai aturan dengan sikap konsisten terhadap aturan yang ada. Anak akan menjadi terbiasa dan berperilaku yang baik.

TEGAS & TETAP MENYENANGKAN

Membantu anak agar tetap teratur dan disiplin, memang perlu ketegasan. Ups, tegas lho, bukan kasar atau keras. Tegas menunjukkan konsistensi bahwa aturan tidak bisa ditawar sesuai keinginan. Aturan dibuat berdasarkan kesepakatan dan ada alasannya. Bersikap tegas bisa dengan tetap bersuara tenang, bersikap ramah, tidak dengan bentakan atau sikap yang kasar. Anak perlu bantuan untuk mengarahkan dirinya, tetapi beri kepercayaan bahwa ia dapat melakukannya dengan baik dan mandiri. Kadang, orang dewasa bersikap ambigu terhadap anak. Di satu sisi ingin anak mampu melakukan ini dan itu serta memiliki banyak harapan, namun pada saat yang bersamaan, orang dewasa selalu membantu dan mengarahkan anak karena tidak percaya anak mampu melakukannya sendiri. Tegas berarti tetap pada pendirian. Jika Bunda atau Ayah membuat aturan bahwa makan harus tetap duduk di kursi, sampaikan pada anak aturan yang berlaku, dan bantu ia untuk menepatinya. Sesuaikan dengan kondisi anak. Jika ia hanya tahan duduk selama 10 menit, berarti porsi makan kira-kira dapat dihabiskannya dalam masa tersebut. Bantu anak untuk tetap merasa nyaman selama masa tersebut. Bernyanyi, bercerita, atau memberi kesempatan untuk berlatih makan sendiri dapat menjadi pilihan aktivitas. Tetap tenang, tidak usah mengancam. Yakin bahwa anak mampu. Rendahkan suara anda untuk memberi penekanan bahwa anak mampu melakukan yang diminta. Beri contoh, bukan nasihat. Anak akan membaca anda dari raut wajah dan nada suara. Ia akan tahu kapan anda ragu dan akan melonggarkan aturan sehingga anak mendapat keinginannya. Perlu latihan. Dan, yakinlah anda bisa J

PENULIS : Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan. Kepala Sekolah Bestariku.

Read more...

Target dan Evaluasi Perkembangan Anak

“Anakku sudah bisa duduk sendiri lho!”

“Wah, sudah bisa jalan ya? Umur berapa sih?”

“Ih, hebat ya, baru 2 tahun tapi sudah kenal huruf,”

“Malu ah, sudah TK kok masih suka marah-marah”

Rasanya kalimat-kalimat di atas sering kita dengar dalam berbagai versi. Banyak topik seputar perkembangan anak yang menarik untuk diperhatikan, apalagi perkembangan anak sendiri. Adalah suatu anugerah bila kita dapat mengikuti perjalanan pertumbuhan dan perkembangan seorang anak. Ada beberapa aspek yang menjadi bagian dari tahapan perkembangan anak. Aspek Fisik (motorik kasar dan halus), Kognitif (kecerdasan, bahasa, atensi, logika), Sosial, dan Emosi. Setiap jenjang perkembangan anak pasti menunjukkan perbedaan dalam setiap aspek perkembangannya. Di setiap tingkatan usia (atau tahap perkembangan), setiap manusia (termasuk anak) memiliki tugas perkembangan, yaitu kemampuan atau perilaku atau kondisi yang diharapkan muncul/tampak pada sebagian besar individu dalam rentang usia yang sama. Tahapan perkembangan dan tugas perkembangan ini disusun berdasarkan riset yang dilakukan di seluruh dunia. Sehingga, hasilnya dapat diterapkan pada semua ras yang ada di muka bumi ini dengan perbedaan kultural yang minim.

Lalu bagaimana orangtua bersikap terhadap tugas perkembangan ini? Perlukah orangtua pasang target atas kemampuan anaknya? Kapan perlu khawatir bila tugas perkembangan belum terpenuhi? Bagaimana cara melakukan evaluasi terhadap perkembangan anak? Apa itu stimulasi dan gunanya untuk perkembangan anak? Bagaimana caranya?

Target pada Anak , Perlukah?

Dalam perjalanan hidup seorang manusia, para ahli membaginya dalam berbagai tahapan perkembangan yang menunjukkan karakteristik kemampuan tertentu atau yang disebut dengan istilah tugas perkembangan.

Tugas perkembangan umumnya dicapai pada rentang usia tertentu. Misalnya, kebanyakan anak di seluruh dunia mampu berjalan secara mandiri pada usia sekitar 12-16 bulan. Ada yang lebih cepat, ada pula yang lebih lambat. Perbedaan pencapaian dapat mengindikasikan suatu gangguan perkembangan. Demikian pula bila ada kemampuan yang tidak dikuasai anak, kemungkinan besar akan timbul masalah di kemudian hari. Misalnya, anak yang tidak merangkak sebelum berjalan, mungkin akan mengalami masalah koordinasi gerak atau anak yang tidak mengoceh (babbling) memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kesulitan berbicara atau berkomunikasi.

Demikian pentingnya tugas perkembangan yang harus dicapai oleh seorang anak, terutama dalam masa 3 tahun pertama kehidupannya. Orangtua sebagai pengasuh dan pendidik utama memiliki tugas penting dalam mengembangkan kemampuan anak agar optimal. Tenang, tidak usah cemas karena kecemasan anda akan sangat mempengaruhi perkembangan ananda. Tugas perkembangan itu sifatnya alamiah. Tetap diperlukan stimulasi oleh lingkungan agar anak menguasai kemampuan dengan baik. Stimulasi dapat dilakukan melalui kegiatan sehari-hari. Mengajaknya berbincang, beraktivitas, dan tentu saja, bermain. Karena, tugas anak adalah bermain. Stimulasi haruslah menyenangkan, bukan belajar ala orang dewasa.

Apakah anak yang tidak mendapatkan stimulasi dapat memenuhi tugas perkembangannya? Mungkin, tapi tentu hasilnya tidak optimal. Anak perlu belajar dari lingkungan sekitarnya. Ia pun perlu tahu bagaimana caranya untuk belajar. Tugas orangtua untuk memberikan kesempatan bagi anak belajar dan menguasai tugas perkembangannya. Dalam teori perkembangan kognitif (kecerdasan) ada teori Piaget dan Vygotsky yang menjelaskan bagaimana anak belajar dari lingkungan dan tugas orang dewasa untuk mengembangkan kemampuan anak.

Panduan penguasaan tugas perkembangan dibuat berdasarkan usia. Ada toleransi sampai dengan 6 bulan karena ada faktor kematangan/kesiapan yang mempengaruhi bagai-mana seorang anak menguasai suatu kemampuan. Faktor kematangan anak usia 1-3 tahun sangat dipengaruhi oleh kesiapan fisik. Demikian pula kemampuan psikis anak juga harus dipersiapkan melalui aktivitas atau stimulasi dari lingkungan. Anak memerlukan kegiatan yang terstruktur dan konsisten.

Evaluasi Perkembangan agar Optimal

Perkembangan anak harus berjalan simultan, semua aspek. Tidak hanya menguasai kemampuan fisik atau kecerdasan saja, tetapi juga kemampuan sosial dan emosi harus berkembang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Untuk itu, orangtua harus melakukan evaluasi terhadap pencapaian kemampuan anak setiap tahunnya. Caranya adalah dengan mengamati kemampuan anak menggunakan panduan perkembangan. Jurnal semacam ini tentu akan menjadi kenang-kenangan yang indah bagi ananda kelak ia besar.

Jika ada yang dirasa kurang sesuai atau orangtua tidak mampu mengatasi kondisi yang terjadi, segeralah berkonsultasi dengan profesional. Dokter anak yang rutin bertemu dengan anak dapat menjadi rujukan pertama untuk memantau perkembangannya. Berdiskusi dengan psikolog juga dapat menjadi pilihan bagi orangtua agar dapat melakukan pengasuhan dan pengembangan kemampuan anak secara optimal. Libatkan pula orang-orang yang berada di sekitar anak, seperti pengasuh atau keluarga yang rutin terlibat interaksi dengan anak. Ya, it takes a village to raise a child.

Oh ya, setiap anak adalah unik. Bahkan saudara sekandung sekalipun. Tujuan utama dari perkembangan adalah anak mampu menjadi individu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Banyak aspek yang harus dicermati, banyak aktivitas yang harus dilakukan, dan semua harus dinikmati karena waktu tak akan terulang. Itulah indahnya mengasuh dan membesarkan anak.

TIPS

Anda dapat mengamati perkembangan ananda menggunakan panduan sesuai usianya. Pemerintah Indonesia menyediakan panduan tahap perkembangan anak di Kartu Menuju Sehat (KMS) atau pada buku kesehatan anak yang diberikan oleh rumah sakit tempat ananda dilahirkan.

Anda juga dapat menggunakan tautan di samping (dalam bentuk PDF) untuk mengamati perkembangan ananda. Mintalah bantuan profesional (dokter anak/psikolog anak) bila ada yang anda ragukan berkaitan dengan kemampuan ananda.

http://www.cdc.gov/ncbddd/actearly/milestones/index.html

http://www.community.nsw.gov.au/docs_menu/parents_carers_and_families/parenting/resources_for_parents.html :: guide to children’s growth & development

http://ecdc.syr.edu/resources/checklists/developmental-checklist-lista-verificacion-del-desarrollo/ :: Developmental Checklist Birth through 5 English

Fakta

Fitrahnya seorang anak (usia di atas 1 tahun) adalah individu yang aktif. Mereka akan bergerak melakukan eksplorasi untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka akan lingkungan sekitarnya. Sesuai cara belajarnya, anak akan mengenali lingkungan dengan melakukan sentuhan, meraba, memegang, mencium, bahkan memasukkannya ke mulut (sensori motor). Tugas orang dewasa adalah memastikan eksplorasi yang dilakukan anak bersifat aman. Anak mampu untuk melakukan banyak hal. Ia membutuhkan kesempatan untuk melatih kemampuannya. Berlatih agar terampil .

PENULIS : Alzena Masykouri, M. Psi-Psikolog Anak & Remaja – Pendidikan. Kepala Sekolah Bestariku.

Read more...

Pentingnya Pendidikan Seks Untuk Anak Usia 1-4 Tahun

Maraknya berita mengenai pelecahan dan kekerasan seksual pada anak tentu mengkhawatirkan orangtua dan juga pendidik. Salah satu faktor penyebab yang disinyalir turut andil dalam merebaknya kasus kejahatan seksual pada anak. Ah, kenapa bisa begitu? Karena ternyata anak tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk melindungi dirinya.

Budaya yang ada dan berkembang di masyarakat saat ini masih menabukan pembicaraan yang berkaitan dengan seksualitas. Dianggap tidak pantas untuk dibicarakan dan didiskusikan. Belum lagi anggapan bahwa ‘seks’ = ‘jorok’ yang membatasi pembicaraan mengengai seksualitas menjadi pembicaraan diam-diam dan bisa jadi tak tentu arah karena informasi yang didapatkan tidak tepat.

Padahal, bicara tentang pendidikan seks pada anak dan remaja, bukanlah seperti yang ada di dalam benak kita orang dewasa. Bukan berarti anak-anak akan belajar mengenai hubu-ngan suami istri, misalnya. Atau, justru remaja akan paham dan melakukan perilaku seks bebas. Bukan itu yang menjadi tujuan pendidikan seks pada anak, dan juga remaja.

Yang ingin disampaikan pada anak dan remaja adalah bahwa tubuh mereka sangat berharga dan harus dijaga dengan baik. Komunikasi dengan Orangtua dan Pendidik juga harus terjalin baik sehingga anak dan remaja akan bertanya dan mendapatkan informasi yang tepat.

Untuk itu, Orangtua dan Pendidik pun harus belajar mengenai pendidikan seks sesuai usia agar dapat menjadi pendamping yang tepat. Diharapkan anak-anak memiliki pemahaman yang baik mengenai tubuhnya, mampu menghargai, dan menjaganya dengan baik. ♥

Read more...

Risih, Bagaimana Jika Saya Tidak Mau Bicara Tentang Seks Pada Anak?

Jika Anda menolak untuk membahas pertanyaan dan memberikan informasi pada Anak mengenai seks, maka Anda termasuk melestarikan budaya. Ya, Budaya bahwa seks itu tabu, jorok, dan memalukan.

Anak akan tumbuh sebagai individu yang tidak tahu bagaimana caranya menjaga diri sehingga ada kemungkinan orang lain memanfaatkan dirinya secara seksual. Anak mungkin akan berkembang sebagai individu yang menganggap kegiatan yang menakutkan atau menjijikkan. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya.

Kalau Anda risih karena bingung bagaimana menjawab pertanyaan anak secara tepat, bahasan selanjutnya mungkin menjadi jawabannya.♥

Read more...
  • Blog Bestariku